Dalam rangka peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia, Rabu (2/4) hari ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan sentra pelayanan anak autis. Sentra ini berfungsi memberikan pelayanan deteksi dini autisme bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Jakarta. Sebab banyak orangtua dari kelompok ekonomi miskin yang tak punya akses untuk mendeteksi autisme sedini mungkin. 

Di Indonesia diperkirakan jumlah penyandang autisme naik lima kali lipat setiap tahun. Sementara itu penelitian terakhir di Amerika Serikat tahun ini menunjukkan kalau 1 dari 68 anak adalah penyandang autisme. 

Total ada 50 pendamping autis yang disiapkan dan dilatih untuk melakukan deteksi dini pada anak-anak penyandang autis di Jakarta. Mereka bertugas di sentra anak autis di Cipayung, Jakarta, juga di sejumlah Posyandu di ibukota. 

Sentra anak autis ini diresmikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bersama Dinas Kesehatan Jakarta. 

“Yang paling penting, konsep kami adalah orangtua mereka, keluarga mereka, harus bisa dilatih mengenal bahwa autisme bukan sebuah kutukan,” kata Ahok yang ditemui KBR68H. Sebab yang lebih penting adalah bagaimana menangani anak-anak tersebut. 

“Kita tidak mungkin menyediakan banyak tempat, tapi bagaimana melatih orang-orang tua memberikan penyuluhan kepada mereka, bahwa autisme bukan kutukan, bukan penyakit. Sehingga keluarga ini bisa bagus, dan anak ini bisa dilatih dengan baik.” 

Kebutuhan dasar 

Sentra Anak Autis terwujud dengan dukungan dari MPATI (Masyarakat Peduli Autisme Indonesia) yang digawangi Gayatri Pamoedji. MPATI 

adalah organisasi untuk penyandang autisme yang digagasnya bersama beberapa perempuan lain di Jakarta. 

Menurut Gayatri, ini adalah kebutuhan dasar bagi anak-anak penyandang autis di Jakarta. “Yang penting adalah bagaimana melatih agar anak-anak autis bisa mandiri. Jika sudah mandiri maka ia bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, kita orangtuanya bertugas selalu mendampingi,” ungkap Gayatri.

Sebelumnya MPATI melatih 50 tenaga pendamping pendeteksi autis dini. Para petugas ini akan diterjunkan ke sejumlah Posyandu di Jakarta. Jadi anak-anak tak hanya akan mendapatkan imunisasi dan makanan sehat di Posyandu namun juga mendapatkan tes deteksi dini autisme.

“Tiang utama penanganan autis adalah deteksi dini. Jika terdeteksi secara dini, maka orangtua menjadi lebih memahami bagaimana memperlakukan anak-anak autis,” tambah Gayatri. Setelah mendeteksi dini, selanjutnya yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan terhadap orangtua soal autis dan memberikan sosialisasi pada lingkungannya agar warga di sekitarnya bisa bersahabat dengan anak autis. Hal ini dilakukan karena banyaknya diskriminasi yang diterima oleh para penyandang autis.

“Diskriminasi dan cibiran selalu saja ada, maka semua pihak harus mendukung agar anak autis dan orangtuanya selalu kuat menghadapi semua ini.”

Tahun lalu Gubernur Jakarta Joko Widodo meresmikan program “Jakarta Ramah Autisme”. Arsitek di belakang konsep ini juga Gayatri dan MPATI. Gayatri mengaku menemukan konsep ini karena melihat terhambatnya pergaulan anaknya, seorang penyandang autisme berusia 24 tahun. Saat meresmikan program tersebut, Pemprov DKI Jakarta berjanji memberikan fasilitas pendidikan, penyediaan lingkungan yang lebih ramah, di sekolah, di ruang terbuka hijau, dan tempat umum lainnya bagi penyandang autisme. Targetnya adalah supaya Jakarta menjadi contoh bagi daerah lain. 

 

Sumber: http://www.portalkbr.com/nusantara/jakarta/3194536_4260.html