Bagaimana Komentar anda mengenai website ini?

by: Admin on Nov 25th 2011

Museum Wayang

Letak bangunan gedung Museum Wayang di Jl. Pintu Besar Utara No. 27. pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “ de oude Hollandsche Kerk “ sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia.
Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi “ de nieuwe Hollandsche Kerk “ dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasastinya yang berjumlah 9 ( sembilan ) buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tersebut.
Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan P. Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Banten, Dalam tahun 1621 Heeren XVII memerintahkan Coen untuk memakai nama Batavia untuk kota Pelabuhan Jayakarta. Kota Batavia yang dibangun oleh Coen diatas puing reruntuhan Jayakarta dengan membuat suatu kota tiruan sesuai dengan kota-kota di negeri Belanda.

Museum wayang

Sebagai akibat terjadinya gempa, bangunan Gereja Belanda Baru itu telah rusak. Selanjutnya lokasi bekas Gereja tersebut dibangunlah gedung yang nampak sebagaimana sekarang ini dengan fungsinya sebagi gudang milik perusahaan Geo Wehry & Co. Bagian muka museum ini dibangun pada tahun 1912 dengan gaya Noe Reinaissance, dan pada tahun 1938 seluruh bagian gedung ini dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda pada zaman Kompeni.
Sesuai besluit pemerintah Hindia Belanda tertanggal 14 Agustus 1936 telah ditetapkan gedung beserta tanahnya menjadi monumen. Selanjutnya dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ( BG ) yaitu lembaga independent yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian.
Pada tahun 1937 oleh lembaga tersebut gedung diserahkan kepada Stichting oud Batavia dan kemudian dijadikan museum dengan nama “ de oude Bataviasche Museum “ atau museum Batavia Lama “ yang pembukaannya dilakukan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir, Jonkheer Meester Aldius Warmoldu Lambertus Tjarda van Starkenborg Stachouwer (22 Desember 1939)

Sejak pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan R.I. gedung museum ini tidak terawat. Pada tahun 1957 diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia ( LKI ) dan sejak itu nama museum diganti menjadi Museum Jakarta Lama
Pada tanggal 1 Agustus 1960 namanya disingkat menjadi Museum Jakarta. Pada tanggal 17 September 1962 oleh LKI diserahkan kepada pemerintah R.I. cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan pada akhirnya pada tanggal 23 Juni 1968 oleh Dirjen Kebudayaan Dep. Pendidikan dan Kebudayaan gedung museum diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dan di gedung ini pula Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta berkantor
Sejak kepindahan Museum Jakarta (sekarang Museum Sejarah Jakarta) ke gedung bekas KODIM 0503 Jakarta Barat yang dahulunya disebut gedung Stadhuis / Balaikota, maka bekas gedung Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta kemudian dijadikan Museum Wayang. Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin ketika menghadiri Pekan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, Pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang.
Museum Wayang

Sebagai pendamping Museum Wayang didirikan Yayasan Nawangi dengan H. Budiardjo sebagai Ketua Umum. Selanjutnya Yayasan menunjuk Ir. Haryono Haryo Guritno sebagai pimpinan proyek pendirian Museum Wayang. Sesudah penataan koleksi wayang selesai maka pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan pembukaan Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang pewayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1).

 

Sumber:

http://www.museumwayang.com/Sejarah%20Museum%20Wayang.html

by: Admin on Nov 26th 2011

Angry face

Hari Ini Festival Teluk Jakarta Digelar
Acara ini antara lain menampilkan art fashion show, seni lukis mural, atraksi air.

VIVAnews - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menggelar Festival Teluk Jakarta selama dua hari mulai hari ini Sabtu 26 November 2011 hingga besok. Kegiatan ini berlangsung di Jetsky Cafe Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara.

Festival ini digelar dari pukul 08.00 WIB-21.00 WIB. "Kami ingin menyajikan pelangi kegiatan yang antara lain diisi lomba menghias perahu nelayan, lomba kreasi lampu lampion, serta lomba masak dengan bahan dasar hasil laut," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Arie Budhiman.

Acara ini juga akan menampilkan art fashion show, seni lukis mural, atraksi air dari para komunitas jetsky, atraksi kuliner, atraksi layang-layang, atraksi komunitas sepeda fixie, bazar dan pameran.

Sebelumnya, kata Arie, dalam rangka mendukung kegiatan World Delta Summit yang berlangsung 21-24 November 2011, panitia Festival Teluk Jakarta juga telah menyelenggarakan kegiatan penanaman pohon di area Pantai Mutiara. Acara itu diikuti sejumlah negara peserta World Delta Summit.
• VIVAnews

by: Admin on Nov 21st 2011

Angry face

As the capital city of Indonesia, Jakarta is a bustling modern metropolis with over 12 million people. Strategically located on the northwest coast of Java, Jakarta is also a dynamic international financial centre as well as the seat of Indonesia’s central government.


Jakarta has something for everyone; here you will find towering skyscrapers for offices and residential, sophisticated shopping malls with the biggest names in fashion, jewelry, electronic, etc. For history lovers and explorers, Jakarta’s historical Jakarta Kota district will bring you on an exciting journey to the past. Many bustling markets, wet markets as well as handy crafts will keep you enthralled all day long.

Page 1 of 6

 1 2 3 >  Last ›

Social Networking


Our Flickr Group


Upload your photos to Flickr and add them to the EnjoyJakarta group

Attractions